Kajuara, (Humas MAN 4 Bone) – Pelaksanaan hari kedua sekaligus hari terakhir Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pendidikan Inklusi di MAN 4 Bone berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (24/9/2026) tersebut diisi dengan sejumlah materi penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang relevan dengan pelaksanaan pendidikan di madrasah.
Pada hari kedua, peserta workshop mendapatkan materi dari beberapa narasumber. Andi Nurbudiman membawakan materi “Penguatan Implementasi Kokurikuler dalam KBC”, yang membahas penguatan kegiatan kokurikuler sebagai bagian penting dalam penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
Selanjutnya, Murniati menyampaikan materi “Penguatan Nilai Sosial dan Ekologi dalam KBC”. Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan kepada peserta didik melalui proses pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai cinta.
Materi berikutnya disampaikan oleh Nurliana dengan tema “Penguatan Nilai Kebangsaan dan Nilai Intelektual dalam KBC”. Materi tersebut menekankan pentingnya membangun karakter peserta didik yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa sekaligus mengembangkan kemampuan intelektual dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, materi terakhir dalam rangkaian workshop disampaikan oleh narasumber dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar melalui Zoom Meeting dengan materi “Penguatan Filosofi KBC”. Materi ini menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai landasan dan filosofi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pelaksanaan pendidikan di madrasah.
Setelah seluruh materi disampaikan, rangkaian Workshop Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Inklusi secara resmi ditutup oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Wahyuddin Hakim.
Dalam acara penutupan tersebut, Wahyuddin Hakim didampingi oleh Kepala MAN 4 Bone, Andi Muhammad Irfan, serta para narasumber yang membawakan materi pada hari kedua. Penutupan tersebut sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian workshop yang telah dilaksanakan selama dua hari.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat mengimplementasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Inklusi dalam proses pembelajaran maupun berbagai kegiatan di madrasah. Dengan demikian, madrasah tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, kepedulian sosial, kecintaan terhadap lingkungan, semangat kebangsaan, serta nilai-nilai kemanusiaan.









